Keesokan hari, sinar matahari menembus tirai kamar utama, menandai awal hari yang tampak biasa—padahal tidak ada yang benar-benar tahu bahwa hari itu akan menjadi hari besar bagi keluarga kecil itu. Indira sudah bangun sejak subuh, walau tubuhnya terasa berat dan setiap gerakan membuatnya harus berhenti sejenak untuk menarik napas. Ia duduk di pinggir ranjang sambil mencoba mengenakan sandal rumahnya. “Mas,” panggilnya lirih. Adnan yang masih sibuk menyiapkan laptop di meja kerja menoleh. “Iya, Sayang. Kamu kenapa? Mau ke kamar mandi?” Indira mengangguk kecil. “Aku udah mulai susah banget gerak. Rasanya setiap langkah kayak bawa karung beras dua puluh kilo.” Adnan menahan tawa. “Wajar dong, kamu bawa anak kita di perut. Coba sini, aku bantu.” Ia segera mendekat, menggandeng tangan is

