Bab 150. Extra Part 1

1543 Kata

Pagi Jakarta tampak sibuk seperti biasa. Matahari menembus celah tirai kamar utama di mansion keluarga Adnan, menciptakan semburat cahaya hangat yang jatuh di atas sprei putih. Dari dapur terdengar suara gemerincing alat makan dan tawa dua anak kecil yang tengah berebut roti panggang. “Alya duluan, Mah! Kak Ian makannya lama banget!” seru Alyana, dengan rambut ikalnya yang sedikit berantakan. Ian menatap adiknya dengan wajah malas bangun. “Aku kan lagi olesin selai, Alya. Nggak sabar banget sih,” sahutnya dengan nada setengah mengantuk. Indira, yang sedang berdiri di meja makan, menoleh sambil tersenyum. “Alya, tunggu kakakmu, ya. Nanti Mama bikinin jus mangga kesukaan kamu.” “Yee, jus mangga!” teriak gadis kecil itu gembira, membuat Adnan yang baru turun dari tangga ikut tertawa kecil

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN