"Varrel belum bangun, Na? Dia ngga ke kantor?" "Belum bangun, Mah. Aku mau bangunin ngga tega liat mukanya capek banget. Semalam juga dia ngga ada pesan harus dibangunin karna ada kerjaan penting. Maka dari itu aku biarin aja." "Begitu? Ya sudah, biarin aja. Lagipula dia bisa berangkat jam berapa aja. Kamu sendiri gimana? Ke kantor bareng Varrel atau duluan?" Ayna yang tengah bersandar di samping kulkas tidak langsung menjawab. Mata wanita itu masih setia mengamati gerak-gerik sang mertua. Sama seperti pagi pada biasanya, selama sebulan ini Ayna memang sudah terbiasa bangun pagi untuk sekedar membantu buat sarapan. Tapi pagi ini Ayna sedang tidak berselera. Saking tidak moodnya dia diam saja layaknya patung. "Ayna dengar Mama?" "Ah? Dengar, Mah, dengar," sahut Ayna. "Kayaknya hari ini

