BAB 89

2103 Kata

DI RUANG ICU Suara mesin medis berdenting pelan, menjadi satu-satunya pengiring dalam ruangan yang penuh ketegangan itu. Laura masih terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat, dengan berbagai selang medis yang menghubungkannya ke alat-alat yang menjaga detak hidupnya. Di sampingnya, Luna duduk dengan kepala tertunduk, jemarinya menggenggam erat tangan Laura yang terasa dingin. Air matanya tak berhenti mengalir, membasahi pipinya yang memerah. Suaranya bergetar, penuh sesal, saat ia berbisik lirih. “Laura, bangun, Laura... Ini Kak Luna,” ucapnya dengan suara parau, nyaris tak terdengar. Jemarinya semakin erat menggenggam tangan adiknya, seolah berusaha menghangatkannya. “Maafin Kak Luna, Laura. Kakak janji, kalau kamu sadar nanti, Kakak nggak akan pernah menjauh lagi.” Tangisnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN