“Mamah! Mamah ini apa-apaan, sih?!” Gavin buru-buru menegur Ibu Alika, nadanya jelas menunjukkan ia paham betul seperti apa perasaan Laura saat ini. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya cepat, matanya menatap khawatir pada Laura. “Oh, n-…nggak kok!” jawab Laura gugup, suaranya gemetar. Ia buru-buru meraih gelas dan menenggak air putih, pura-pura sibuk padahal jelas wajahnya panik. Sedikit pun ia tak berani mengangkat pandangan untuk menatap Gavin. “Ya ampun, Sayaaang! Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Ibu Alika penuh rasa bersalah. “Maafin Mamah, ya! Kalau bercandaan Mamah tadi kelewatan.” “I-iya, Mah… nggak apa-apa,” balas Laura, berusaha tersenyum, meski tubuhnya menegang. Namun tiba-tiba ia meringis, menahan rasa perih lagi di dadanya. “Ssst… aw…” lirihnya sambil memegangi d**a pel

