Laura terus menangis histeris sambil mengguncang tubuh Gavin yang tergeletak di pelukannya. “Hiks… Mas Gavin, bangun! Hiks… hiks… bangun, Maaas! Jangan tinggalin Laura! Hiks… Mas Gaviiin, bangun, Mas! Jangan tinggalin Laura sendirian, Mas!” Tangisannya pecah makin tanpa kendali. Suaranya parau, tubuhnya gemetar hebat. Tapi tiba-tiba— “L-Lauuuraaa! Sayang, kamu kenapa?” terdengar suara panik memanggil namanya. “Bangun, Sayang! Bangun!” Seseorang mengguncang tubuhnya keras-keras. Namun Laura masih terisak, masih memanggil nama Gavin di antara tangisnya. “Hiks… jangan, Mas Gavin… jangan tinggalin Laura… hiks… jangan!” “Sayang! Bangun! Kamu kenapa, Sayang?” suara itu semakin dekat, semakin nyata. Tiba-tiba, Laura membuka matanya dengan napas tersengal. Ia langsung terduduk, k

