Bab 49

1138 Kata

Bab 49: Pulang untuk Menghancurkan Malam itu, perapian di toko roti mereka menyala lebih terang dari biasanya, namun suasananya terasa dingin. Aurora—kini Elena—menatap api yang melahap kayu kering, membayangkan jika api yang sama bisa melahap seluruh masa lalunya di Jakarta. "Thomas," panggilnya lembut. Aditya berdiri di dekat pintu, bayangannya memanjang di lantai kayu. Ia tahu apa yang akan dikatakan istrinya. Ia mengenal api di mata Aurora; itu bukan lagi api ketakutan, melainkan api keadilan. "Jika kita lari ke Amerika Selatan, kita akan selalu menoleh ke belakang," lanjut Aurora. "Setiap kali ada mobil hitam berhenti, setiap kali ada orang asing bertanya arah, kita akan merasa ajal sudah tiba. Aku tidak mau hidup seperti itu. Aku tidak mau anak-anak kita nanti—jika kita punya—la

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN