26. Firasat Sang Kakak

1453 Kata

"Kamu kenal Wira, May?" tanya Elisa, suaranya sengaja dibuat ringan meski matanya tak lepas dari raut wajah kakaknya. Maya menggeleng, tapi alisnya masih berkerut. "Enggak, sih. Cuma ... kayak pernah lihat di mana gitu. Rasanya familiar." Wira menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Kamu kan ketemu sama banyak klien dan orang baru terus, May," sahut Elisa cepat, mencoba mengalihkan. "Mungkin wajah saya yang mudah ditemui di mana-mana," timpal Wira dengan senyum tipis yang sopan. Maya mengangguk, sedikit malu. "Maaf, bukan maksud—" "Gak apa-apa," potong Wira ramah. "Yuk, makan. Wira juga baru pulang," ujar Elisa, segera menarik lengan Maya menuju meja makan, memutus percakapan. Mereka duduk. Wira mengambil posisi di seberang kedua saudari itu, langsung menyendok nasi. E

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN