Axel Mulai Menyelidiki Lebih Jauh.

977 Kata

​Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam kamar luas Axel di Mansion Ludwig, kesunyian terasa begitu menekan, seolah-olah dinding-dinding marmer itu memiliki telinga yang mendengarkan setiap detak jantungnya yang tidak beraturan. Axel duduk di depan meja belajarnya, namun bukan buku teks kuliah atau draf skripsi yang memenuhi pandangannya. Di hadapannya tersebar serangkaian catatan kecil, potongan jadwal kegiatan ayahnya yang ia curi-curi dari ruang kerja, dan beberapa foto kabur yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi selama beberapa minggu terakhir. ​Axel, yang selama ini dikenal sebagai mahasiswa yang idealis dan mungkin sedikit naif di mata ayahnya, kini sedang mengalami transformasi yang menyakitkan. Luka yang ditinggalkan Luna dalam pertemuan terakhir mereka di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN