Di lantai eksekutif Ludwig Towers, seratus lantai di atas hiruk pikuk Jakarta, Hayes Ludwig duduk di singgasananya. Pagi itu, ia tampak tenang, mengenakan setelan tiga potong Savile Row yang sempurna, tetapi di balik ketenangannya, ia merasakan gejolak—sebuah campuran desakan hasrat yang ia tolak dari Luna tadi malam, dan kejengkelan terhadap Axel, putranya, yang kini menjadi penghalang. Luna adalah aset yang paling mendistraksi sekaligus paling memfokuskan dirinya. Pemikiran tentang Luna yang kini harus berbohong di depan putranya sendiri terasa seperti kemenangan strategis yang pahit. Rapat dewan direksi baru saja berakhir, tetapi Hayes tidak sepenuhnya hadir. Matanya membaca laporan keuangan, tetapi pikirannya melayang pada road map skripsi Luna yang kini menjadi jaminan ketaatan. Ia

