30. Kamar Tidur Kairav

1735 Kata

Pintunya tidak terkunci, seperti yang Kairav bilang. Aruby mendorongnya perlahan, dan cahaya lembut dari lampu meja menyambutnya lebih dulu—hangat, keemasan, seperti cahaya yang biasanya ada di kamar hotel premium. Langkahnya berhenti tepat di ambang pintu. Kamar itu… rapi dengan cara yang tidak kaku. Dinding berwarna warm grey, sama seperti ruang utama, tapi terasa lebih personal. Ada rak buku kecil di pojok, beberapa kamera analog dipajang di atasnya. Di dekat jendela, sofa single hitam dengan selimut tipis terlipat rapi. Kasurnya king size, sprei putih bersih tanpa motif. Sederhana. Maskulin. Dan… entah kenapa, wangi sandalwood yang lembut terasa lebih kuat di ruangan ini. Aruby memeluk gantungan ubur-uburnya tanpa sadar sambil menelan ludah tipis. “Ya Tuhan…” gumamnya lirih. “Ngap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN