Malam mulai turun dengan pelan, membawa kesunyian yang tak pernah benar-benar memberi ketenangan pada pikiran Aruby. Kamar apartemennya remang. Hanya lampu meja yang menyala, memantulkan cahaya hangat ke dinding—namun nyatanya tetap tak mampu meredakan riuh di kepala seorang Aruby. Ia duduk bersila di ranjang, hairband masih menggantung di pergelangan tangan, rambutnya dibiarkan tergerai berantakan. Ponselnya tergeletak di samping, layarnya mati—namun keberadaannya saja sudah cukup membuat napasnya berat. Beberapa hari terakhir terasa seperti hidupnya diputar ulang tanpa ia minta. Clauna. Kairav. Baskara. Garvi. Edo. Semuanya muncul, tumpang tindih dalam ingatan, seolah dunia sepakat menyingkirkan ruang bernapas untuknya. Aruby menunduk, mengusap wajah perlahan. “Kenapa semuanya j

