Pintu apartemen terbuka dari dalam sebelum Kairav sempat mengetuk. Trian berdiri di sana—wajahnya letih, matanya merah, tapi masih berusaha tegar dengan senyum tipis yang terlalu dipaksakan. Tanpa banyak kata ia memberi isyarat agar Kairav masuk, lalu menutup pintu perlahan, seolah suara kecil saja bisa melukai keadaan Aruby yang rentan di lantai dua. “Gimana keadaan Aruby, Yan?” tanya Kairav pelan, suaranya teredam antara kekhawatiran dan kehati-hatian. “Udah lebih tenang,” jawab Trian sambil menepuk bahu Kairav singkat, lalu berjalan menuju anak tangga. “Tapi… masih gak mau ngomong sama nyokap dan bokap.” Kairav mengangguk. Ia paham. Mungkin lebih daripada siapapun di ruang itu. Aruby pasti terjebak di antara rasa malu, takut, dan trauma malam itu menumpuk, membuatnya kesulitan untuk

