Pagi itu suasana rumah terasa begitu hening. Matahari baru saja menyelinap lewat tirai tipis, membuat cahaya keemasan menimpa ranjang besar di kamar Sarah dan Kavindra. Alvano sudah bangun lebih dulu. Bayi tujuh bulan itu merangkak pelan di tengah kasur, wajahnya penuh rasa ingin tahu. Kedua orang tuanya masih tertidur pulas di sisi kanan dan kiri. Dengan polosnya, Alvano mencondongkan tubuh ke arah Sarah. Bibir mungilnya mencium pipi ibunya yang masih terpejam. “Muahhh…” suara kecilnya seperti gumaman bayi. Sarah bergumam lirih tapi tetap tidak terbangun. Melihat itu, Alvano menoleh ke sisi lain. Dengan tertawa kecil, ia lalu mencium pipi ayahnya. “Muahhh…” Kavindra juga tidak bereaksi, hanya sesekali menggerakkan bibirnya seolah masih bermimpi. Pintu kamar terbuka perlahan. Raisa ma

