Kavindra duduk di kursi ruang penyelidikan kantor polisi dengan tangan kanan yang masih diperban dan kepalanya yang masih berbalut. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur dan tangisan yang ia tahan. Namun di balik kelemahan fisiknya, ada kobaran api yang begitu besar. Ia tidak peduli rasa sakit di tubuhnya, satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya hanyalah Sarah. Istrinya, wanita yang ia cintai, wanita yang kini direnggut secara paksa dari sisinya. Polisi mengeluarkan berkas hasil penelusuran rekaman CCTV rumah sakit. Mereka menunjuk pada gambar buram sebuah mobil van hitam yang terlihat berhenti di pintu belakang rumah sakit beberapa menit setelah Sarah terekam berjalan ke arah kantin. Kamera tidak mampu merekam jelas wajah pelakunya, tapi plat nomor mobil itu masih bisa ter

