Kavindra meletakkan tas kerjanya di meja, melepas dasi yang sejak siang terasa menyesakkan, lalu menunduk menyambut Alvano yang merangkak penuh semangat mendekatinya. Senyum tipis muncul di wajahnya, sebuah kebahagiaan kecil yang hanya bisa dirasakannya ketika melihat anaknya. Namun, tatapan matanya tetap melirik pada Sarah, yang masih berdiri di dekat sofa dengan wajah datar, seolah menahan diri untuk tidak menunjukkan apa pun. Ia tahu, betapapun ia berusaha, luka di hati Sarah belum pulih. Senyum yang ia tunjukkan tak cukup untuk menghapus semua rasa sakit yang pernah ia timbulkan. Sarah hanya menunduk, menyibukkan diri dengan merapikan mainan Alvano yang berserakan, menghindari kontak mata. Suasana ruang tamu itu terasa berat. Ada jarak yang begitu nyata, bukan hanya beberapa langkah

