Bab 17. Pulang Menjemput Nyawa

1288 Kata

Apartemen itu terasa sangat sesak meskipun hanya ada dua orang di dalamnya. Milea sudah sampai pada titik terendahnya. Ponselnya adalah musuh terbesarnya, benda itu tetap bungkam dengan satu centang abu-abu yang tak kunjung berubah. Ia duduk di lantai apartemen dengan mata sembab, menatap toga yang tergantung kaku di pintu lemari. Di sampingnya, Sisi terus menggenggam tangan Milea, berusaha menyalurkan kekuatan. "Makan sedikit ya, Lea? Dari kemarin kau hanya minum air putih," bujuk Sisi lembut. Milea menggeleng lemah. Matanya bengkak. Lusa adalah hari wisudanya, hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaannya, namun justru terasa seperti lonceng kematian karena Julian hilang kontak setelah berita ledakan di perbatasan itu menyebar. “Dia apa kabar, Si?" gumamnya lirih nyaris tidak te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN