POV Milea Orang bilang, saat seorang wanita melahirkan, ia sedang mempertaruhkan satu kakinya di liang kubur. Namun bagiku, saat melahirkan di sebuah rumah sakit darurat di pinggiran Shanghai satu tahun lalu, aku merasa kedua kakiku sudah berada di sana. Malam itu, Shanghai tidak cantik. Tidak ada lampu jingga di The Bund. Yang ada hanya suara sirine evakuasi yang meraung-raung, bercampur dengan suara gemuruh guntur dan berita kontak senjata di laut lepas yang memekakkan telinga. Aku mengerang, meremas seprai rumah sakit sampai kukuku patah, sementara Mama Widuri terus membisikkan doa di telingaku dengan suara yang bergetar hebat. "Julian... mana Kapten, Ma?" rintihku di tengah bukaan delapan yang rasanya seperti tubuhku dibelah paksa. Mama Widuri tidak menjawab. Dia hanya menangis. Da
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


