Tanpa terasa hari itu tiba, waktu di mana seluruh keluarga kesebelasan berkumpul di rumah utama. Dulu, rumah itu isinya hanya dua orang saja. Yakni oleh mendiang ibu dan ayahnya Altariksa. Dulu, rumah itu luasnya tidak seberapa. Berangsur-angsur hingga di mulai dari kelahiran Umin Alghazali, lalu lahirlah Samudra Harta Wijaya, kemudian Lei Tri Hartono, Baekarsa Banyumas, disusul dengan kehadiran Chendrapatih Dolken, ehm ... lanjut si kembar Abyansah Chandra Gerhana berikut Penicylin Dion Kusuma, habis itu nambah lagi si kembar Malikai Zul Edowardo dan Altariksa Lorenzo. Hingga bertahun-tahun terlewat lahirlah Jaelani Jeperi Bianto yang kiranya akan menjadi seorang bungsu. Tapi, oh ... rupanya belum selesai, Pemirsa! Marine hadir sebagai pemecah rekor dan penutup produktivitas orang tua

