110 | Jatuh

2006 Kata

Kisah kita belum berakhir. Tidak sekarang, mungkin esok? . . "Mami, papi teliak-teliak tadi, sih, kenapa?" Oh, kedengaran sampai luar kamar, ya, ternyata? "Digigit Atlas." Tania menjawab jujur. Eh, Cely tertawa. "Memangnya sakit digigit Atlas? Kok, papi sampai teliak, sih? Atlas, kan, belum tumbuh gigi sepelti Kakak." "Geli, mungkin." Cely tertawa lagi. "Jadi pengin ngelasain digigit Atlas, Mi." Ada-ada saja. "Papi ovel leaksi, ya, Mi? Digigit gusi, kok, teliak? Kan, halusnya ketawa kalau geli. Papi ... papi. Sampe teliak kayak olang kesakitan aja. Kan, Kakak kaget dengelnya." Wiat. Over reaksi? Cely yang umur lima tahun ini dapat kosa kata itu dari mana, ya? Tahu artinya pula. Dan dia merangkai kalimatnya dengan benar. Tania seketika tertegun, teringat kisah lalu di mana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN