"Adisti, kenapa kamu ke sini lagi?" tanya Erik menyambut kedatangan Adisti yang memasuki ruang kerjanya dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Perempuan itu melepas masker yang menutupi wajahnya. Erik yang melihat kondisi perempuan itu terhenyak. Ada keterkejutan sekaligus rasa penasaran dengan kondisi Adisti. Wajah penuh lebam yang Erik tebak adalah bekas pukulan. Wajah Adisti sedikit pucat dengan mata sembab, perempuan itu berucap, "Mas Farhan yang sudah membuatku babak belur seperti ini." "Lalu ... apa hubungannya denganku?" tanya Erik seolah tak lagi perduli pada kondisi Adisti. "Rik, please bantu aku lepas dari Mas Farhan. Aku bisa makin babak belur dibuatnya. Hanya satu yang aku inginkan. Lepas darinya." Erik mengembuskan napas panjang. "Dis, aku bukan tidak mau membantu

