Pagi Tenang, Pagi Kacau

1879 Kata

Dara agak terkejut. Padahal penampilannya sangat menggoda, pikirnya Jedidah akan memaksa, nyatanya pria itu malah membaca di sisi ranjang yang lain. Tangan satunya mengelus kepala Dara dengan lembut, seolah menikmati kebersamaan tanpa harus terburu-buru. Kok bisa ya? Bukannya dia biasanya nafsuan? “Jed,” panggil Dara, berusaha menarik perhatiannya. Jedidah tetap fokus membaca. “Ih kok diem mulu sih, jawab dong. Jedidah,” rengeknya, sedikit menggeliat di tempat tidur, mencoba mencari perhatian. “Gak sopan sama suami, panggil Mas.” Sambil tetap fokus pada buku. Dara mendengus. “Mas Duda.” “Apaan itu? Gak duda lagi kan, udah nikah sama kamu.” “Ih Mas! Nengok sini napa, aku ngomong!” kesal Dara. Akhirnya Jedidah meletakkan bukunya, menatapnya sambil terkekeh. “Kenapa? Bukannya capek a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN