Bayi Belanda itu kini terlelap di ranjang besar milik kedua orangtuanya. Noah, si balita berusia tiga tahun dengan energi seperti meriam tak habis-habis, akhirnya tertidur. Nafas kecilnya teratur, d**a mungilnya naik turun pelan di antara selimut tebal bergambar tokoh kesayangannya. Pipinya yang bulat masih ada sisa bekas air mata, dan ujung matanya mengering, bekas tangisan panjang saat ia merasa kehilangan posisinya sebagai anak lelaki satu-satunya. Jedidah berdiri di sisi ranjang. Matanya menatap lembut pada anak itu, perasaan lega dan lelah berpadu dalam satu tarikan napas panjang yang ia lepaskan diam-diam. Ia telah membujuk, merayu, dan bahkan bersumpah seperti ksatria Belanda zaman dahulu bahwa apa pun yang dimiliki adik bayi nanti, Noah juga akan mendapatkannya. Bahkan jika sang a
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


