Disinilah Dara sekarang, mengomeli dua wajah yang serupa tapi lahir di tahun yang berbeda. Jedidah mengakui dirinya salah dan lalai dalam menjaga Noah, tapi tidak dengan mengakui dirinya lalai sebab mengangkat telpon. Telinga Jedidah tetap mendengarkan omelan Dara, tapi matanya fokus membersihkan Noah di kamar mandi terbuka di belakang yang langsung mengalir ke kolam ikan itu. Ingin turut memarahi si anak, tapi kasihan, dia bahkan masih sesegukan ketika Jedidah membasuh wajahnya dan memakaikan sabun. “Dengar tidak?” “Dengar, Sayang,” jawab Jedidah tenang lalu menoleh pada Dara. “Kita bicara lagi nanti ya, kasihan Noah nya, nanti dia menangis lagi. dia juga tidak mau kotor dan tenggelam dalam lumpur, dia hanya tertarik pada bunga kangkong itu.” Dara menghela napasnya dalam. “Nih handukny

