"Oke Pah, kita akan bertemu besok lusa. Maaf sekali karena aku sedang berbicara dengan seseorang jadi harus menutup telepon ini," ucap Yudistira sembari memegang tengkuknya. Setelahnya Yudistira menghembuskan nafas berulang kali, jujur dia merasa amat ragu akan pertemuan kali ini. Entah mengapa firasat itu terus menerus menggerogotinya. "Yudis, sebaiknya minum kopi dulu biar pikiran lo jernih. Dan sekarang nggak usah terlalu memikirkan keadaan Jumariah, ntar kepala lo sakit lagi," ujar Bayu dengan prihatin. Keira yang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua pria ini hanya dapat terdiam, tapi melihat dari raut wajah serius yang ditampilkan oleh keduanya membuatnya yakin jika ada sesuatu hal yang kurang menggenakan antara Yudistira dengan sang penelepon yang disebut Pah oleh

