Matang dan Sempurna

1418 Kata

“Darimana saja kamu?” suara Candra langsung menyambut begitu pintu penthouse terbuka. Perempuan itu sudah berdiri di ruang tengah, wajahnya tampak cemas sekaligus lelah, seperti sejak tadi mondar-mandir menunggu kepulangan mereka. Cahaya siang masuk dari jendela besar, membuat ruangan tampak terang, tetapi suasananya tidak terasa ringan sama sekali. Arunika berdiri di samping Mahadewan dengan tangan masih digenggam pria itu, sementara di belakang mereka, Pak Atep masuk membawa dua kresek besar berisi belanjaan dari minimarket dan apotek rumah sakit, lalu meletakkannya di meja dengan hati-hati sebelum pamit mundur. “Dari mana saja kamu, Dewan?” Candra mengulang, kali ini lebih tajam. Matanya turun pada tangan Mahadewan yang menggenggam Arunika, lalu naik lagi ke wajah putranya yang mas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN