Malam itu, Arunika terbangun perlahan karena tenggorokannya terasa kering. Udara kamar cukup dingin, namun rasa hausnya tidak bisa ditahan. Ia membuka mata dengan sedikit berat, lalu duduk perlahan di ranjang, memastikan tidak ada suara yang mengganggu. Penthouse terasa sunyi. Terlalu sunyi. Ia menoleh ke arah pintu, lalu berdiri pelan, membuka pintu tanpa suara. Langkahnya ringan menuju ruang tengah. Saat melewati kamar tamu, pintunya sedikit terbuka. Dari celah itu, Arunika bisa melihat Noelle tidur meringkuk di sisi Candra, perempuan itu tampak tertidur dengan satu tangan memeluk cucunya. Hati Arunika sedikit hangat melihatnya, lalu ia melanjutkan langkah ke dapur sambil teringat tadi malam. “Sama Oma dulu tidurnya. Jangan sama Mama. Noelle kalau tidur suka nendang-nendang. Mamanya l

