Arunika tahu, ini bukan sekadar alasan pembangunan universitas yang membuat mereka tetap berada di Bali. Logikanya sederhana, agenda sebesar itu tidak mungkin hanya diselesaikan dalam hitungan hari, apalagi hanya sampai akhir pekan. Namun cara Mahadewan berbicara tadi malam, cara ia menyampaikan rencana itu dengan tenang dan terstruktur, membuat semua orang percaya tanpa banyak bertanya. Bahkan Candra yang biasanya peka pun akhirnya mengangguk, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan itu memang masuk akal. Dan Arunika… hanya bisa diam, menelan semua itu sambil menyimpan kecurigaan yang tidak berani ia ucapkan. Yang lebih nyata justru apa yang ia rasakan keesokan harinya. Tubuhnya panas. Bukan hangat biasa, melainkan demam yang membuat kepalanya berdenyut dan tubuhnya lemas sepe

