“Aksa jangan lari-lari, Ak ...” Sastra menahan napas ketika putranya tiba-tiba jatuh, terjerembab dengan dagu yang terbentur lantai. Sejenak, keheningan menyelimuti ruangan sebelum akhirnya suara tangis Aksa pecah, membuat jantung Sastra mencelos. Tingkah putranya benar-benar mengingatkan Sastra akan Cairo. “Sudah Papa bilang jang—” “Jatuh lagi?” Nada menarik napas panjang. Buru-buru menghampiri putranya yang baru digendong oleh Sastra, di teras rumah. “Pasti lari-lari lagi, kan?” “Mamaaa ...” Kendati Nada mengomel, tetapi Aksa tetap mencondongkan tubuh pada sang mama. Meminta ada di gendongan Nada daripada Sastra. “Sakit, kan?” tanya Nada saat Aksa sudah berada di gendongannya. Aksa mengangguk. Merebahkan tubuh di bahu Nada dan masih meneruskan tangisnya. “Dagunya sakit itu,” ucap

