Bab 18 — Bersiap lah

1306 Kata
Rakha's PoV Aku memang agak picky dengan makanan. Sejak tinggal di luar negeri, aku terbiasa konsumsi makanan sehat selain berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhku. Bagus untuk kesehatan dan kulit juga. Hinaan Ayu kala itu secara tak langsung memotivasiku untuk mengubah kebiasaanku yang tak baik. Dan ketika mulai kuliah di luar negeri baru rutin menjalankannya. Setelah mandi dan rapih menggunakan pakaian kerja, aku menuju meja makan. Di sana telah tersedia menu sarapan sehat. Dia membuat overnight oat rupanya pagi ini, not bad. "Nggak sarapan juga?" tanyaku menyadarinya yang tengah memperhatikanku, duduk di kursi seberang. "Nanti aja. Saya belum begitu lapar rasanya.” "Jangan lupa makan! Saya nggak mau ngurusin kalau kamu sakit. Lagi juga, kamu harus tetap sehat biar bisa melakukan semua tugas rumah dan melayani saya." "Iya. Gimana rasanya, Mas? Enak nggak? Saya baru pertama kali bikin yang begitu." "Bikin begini doang, gampang. Enggak usah ngarep dipuji." Oatmeal dicampur yoghurt, chia seed dengan topping buah di atasnya sangat mudah diolah. Aku saja bisa membuatnya sendiri. Di luar negeri, aku sering membuat ini. Saat di Indo jarang, sesekali saja. Aku kembali menyendok overnight oat itu. Rasanya sebenarnya cukup pas—yoghurtnya tidak terlalu asam, buahnya segar. Tapi tentu saja aku tidak akan mengatakan itu. Aku melirik Ayu di seberang meja. Perempuan itu masih duduk diam, kedua tangannya di pangkuan, seperti murid yang sedang menunggu dimarahi guru. Sialnya... pemandangan itu justru membuatku ingin terus bicara. "Kenapa?" tanyaku santai sambil mengunyah. "Kamu lagi nunggu apa? Kenapa memperhatikan saya begitu?” Ayu mengangkat wajahnya sedikit. "Nunggu kamu selesai makan." Aku mendengkus pelan. "Kenapa harus nunggu? Takut racun yang kamu masukkan di situ bereaksi duluan, huh? Sebal sama saya, apa kamu merencanakan sesuatu selain menginginkan uang saya?" Dia langsung menggeleng cepat. "Saya seburuk itu di mata kamu, Mas?” tanyanya terdengar lirih. Mulai memelas lagi, menyebalkan. Aku tersenyum sinis, setelahnya, menatap tajam perempuan itu. "Who knows? Kamu enggak bisa dipercaya soalnya. Kemarin aja ketahuan bicara soal uang, tapi tetap ngelak bilang nggak manfaatin saya." "Terserah kamu aja, Mas. Kalau itu menurut kamu benar, ya, itu benar.” "Kenapa? Enggak terima padahal kenyataannya saya mendengar langsung omongan kamu kemarin itu?" Dia tak menyahut. Sendokku berhenti sejenak di udara. “Kamu udah terbiasa akting, ya?” "Maksud kamu?" "Pura-pura sok baik dan lembut, padahal aslinya... " Aku mengibaskan tanganku. “Lupain.” "Terserah kamu mau menilai aku gimana, Mas. Aku nggak perlu menjelaskan bagaimana aku, karena nggak akan kamu percaya.” Aku mencebikkan bibirnya. Tanpa dia jelaskan, aku sudah tahu jika dia aslinya angkuh. Terlihat lembut karena ingin mencari perhatian saja. "Overnight oat-nya lumayan juga," ujarku mengalihkan. Aku mengamati ekspresi wajah perempuan itu. "Bukan berarti enak, tapi setidaknya bisa dimakan." “Syukur lah. Kamu mau makannya aja, saya udah senang banget. Semoga ke depannya, saya bisa bikin yang lebih enak lagi rasanya. Saya akan belajar supaya bisa memanjakan lidahnya kamu, Mas.” Dia ini… apa kata-kata yang keluar dari mulutku tak membuatnya kesal? Dia tampak tenang saja, sering menunjukkan senyuman malah. Apa diam-diam dia memendam rasa kesal? Tujuanku kan hidup bersamanya, untuk membuatnya tak tenang. Beberapa menit kemudian, aku pun selesai makan. Aku bangkit berdiri menuju kamar untuk mengambil tas kerjaku. Begitu keluar kamar, aku melirik sekilas Ayu dari arah dapur yang melangkah ke arahku. Dia mengikutiku ke depan. “Mas… “ Aku menoleh saat akan keluar pintu, setelah memakai sepatu. Dia mengulurkan tangannya, ingin salam. Aku menatap malas tangan tersebut. “Enggak usah salam-salam. Enggak penting.” Ayu menarik tangannya kembali, terlihat kecewa. Biar saja. Memangnya dia siapa sok-sok’an bersikap seperti istri sesungguhnya yang seolah mencintai suami? Pandai sekali perempuan itu berakting. Memasang wajah memelas, tak marah dengan kata-kata dan perlakuanku padanya. Taringnya dia sembunyikan dia baik. Sayangnya, aku sudah mengenalnya sejak dulu. “Hati-hati bawa mobilnya ya, Mas!” seru perempuan itu saat aku tengah membuka pintu mobil. Aku menoleh dan mendapatinya tersenyum padaku. Kenapa dia selalu saja tersenyum begitu? Cantik sekali dan aku makin kesal melihatnya. Aku tak menyahut, langsung masuk ke dalam mobil. Perlahan mobilku keluar dari bagasi dan aku melihat senyum perempuan itu tak kunjung pudar. *** “Ditunda, Pak.” Senior di perusahaanku tampak heran melihatku begitu aku baru saja keluar ruangan, hendak pulang. Dia bertanya, apa kah aku tidak pergi honeymoon? Dia tak tahu saja, tak akan ada agenda honeymoon bagiku bersama mempelai pengganti yang tak aku sukai. Sebenarnya aku dan Ella sudah memesan tiket pesawat untuk ke Jepang sebelumnya, namun takdir berkata lain. Dan aku tak akan pergi bersama penggantinya. “Ya ya ya… cari momentum yang tepat ya, Pak?” Aku mengangguk saja mengiyakan, agar tak ditanya-tanya lagi. “Sekarang pulang kantornya lebih cepat ya, Pak, ya?” Lelaki usia 45 tahun itu masih terus saja bersuara di saat akan tiba di lift. “Udah ada istri yang nunggu di rumah pastinya. Bikin pengen buru-buru pulang, ‘kan? Sama, saya begitu juga setelah menikah.” Aku tersenyum menanggapinya. Mana ada aku ingin buru-buru pulang karena perempuan itu? Tak ada lagi yang akan aku kerjakan, ya waktunya pulang. “Beruntung sekali Pak Rakha ini, pasti saingannya banyak buat dapatin istri Bapak itu, ya? Ah, iya, Pak Rakha juga ganteng. Cocok kalian berdua itu. Beruntung dari mana coba? Mama dan banyak lainnya lagi, kenapa semua orang bilang jika aku itu beruntung beristrikan perempuan itu? Padahal, ada banyak perempuan lain yang jauh lebih segalanya dari perempuan bermuka dua itu. Harusnya, dia yang beruntung menikah denganku yang finansial stabil dan tak kekurangan apa pun. Orang-orang juga tak tahu bagaimana sifat aslinya perempuan itu, terlihat cantik dari luar saja. Kami berpisah di parkiran. Memasuki mobil, aku mendapatkan notifikasi pesan dari Ayu yang bertanya aku pulang jam berapa. Aku mengabaikan pesan tersebut. Tadi juga, aku tak membalas saat perempuan melaporkan kegiatannya mulai dari ke rumahnya setelah berbenah rumah, dan setelah itu ke melakukan perawatan tubuh. Dia juga mengirimkan foto saat sedang berada di klinik kecantikan. Sungguh tak penting sekali. Dikira aku butuh laporan itu? Aku tiba di rumah menjelang maghrib. Kedatanganku disambut oleh perempuan itu di depan pintu, memakai dress rumahan di atas lutut. Lagi, dengan senyuman di wajahnya yang mana aku langsung memutus kontak mata dengannya. Dia hendak menyalamiku lagi seperti pagi tadi, namun aku mengabaikannya. Melewatinya begitu saja. “Mau langsung mandi, Mas? Mau saya siapin baju ganti sekarang?” “Hmmm.” Aku memasuki kamar, dan perempuan itu mengikutiku. Aku meletakkan tas di atas kasur dan membuka dasiku, sementara sudut mataku menangkap sosoknya yang tengah mengambil pakaianku dari lemari. “How was your day, Mas? Kerjaan lancar?” “Enggak usah sok akrab sama saya. Nggak usah pengen tahu tentang urusan saya sehari-harinya. Jangan lupa, kamu sekedar orang yang ngurusin rumah ini dan melayani saya. Nggak lebih dari itu.” “Maaf.” “Sana keluar!” “Iya. Tapi, kamu akan makan malam nanti, ‘kan? Saya udah masak.” “Hmmm.” Aku baru keluar kamar jam 7 kurang. Aku menuju ke arah dapur, sudah terlihat di sana Ayu menyediakan makan malam. “Mau makan sekarang?” “Saya duduk di sini, artinya apa?” Perempuan itu tersenyum. “Bentar, saya ambilkan piring.” Kembali lagi dengan membawa piring, perempuan itu mengambilkan nasi untukku. Di atas meja makan ada sayur bening, ayam goreng dan sambal. Menu sederhana, tapi tidak begitu buruk. Aku memang lebih suka makanan rumahan. Kami makan dalam diam, tak ada yang bersuara hingga aku selesai makan lebih dulu. Aku langsung berdiri dan cuci tangan di wastafel, setelahnya menuju ruang tengah. Duduk di sofa sana, menyalakan TV. Sesaat kemudian, tampak Ayu melangkah tanpa menoleh ke arahku. Dia sepertinya hendak naik tangga menuju kamarnya. “Nanti saya akan ke kamar kamu.” Perempuan itu menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku. “Bersiap lah untuk malam ini.” Semakin cepat aku menyentuhnya, siapa tahu dia akan segera hamil. Mungkin nantinya rumah tangga kami tak akan lama, aku yang tentunya akan menjaga anak kami setelah menceraikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN