Bab 9 — “Saya enggak akan ke mana-mana”

1325 Kata
Ayu's PoV Aku menghela napas begitu memasuki rumahnya Rakha. Besar sekali rumah yang akan aku bersihkan, hampir sama dengan rumah orang tuaku dulu. Wajar dia memiliki rumah yang besar, mengingat dia adalah seorang CEO pada sebuah perusahaan. Rakha memberitahu bagian-bagian di rumah ini, setelah memberitahu letak alat kebersihan berupa sapu, pel'an, vacuum cleaner dan komoceng. Seluruh bagian itu, harus aku bersihkan katanya. Tidak hanya di lantai ini saja, tapi di lantai dua juga. Sudah terbayang olehku, tapi harus bagaimana lagi? Tak bisa membantah. Anggap saja latihan karena ke depannya setiap hari akan melakukan ini juga. Mungkin nantinya tak usah setiap hari juga mengepel bagian tertentu, yang penting lantai bagian bawah. Aku membersihkan bagian kamar utama terlebih dahulu, sementara Rakha duduk di sofa ruang tengah. Kamar utama rumah itu sangat besar, ada kamar mandi di dalamnya juga. Nanti setelah menikah, apa kami akan tidur bersama di sini atau pisah ranjang seperti kebanyakan novel yang aku baca? Cerita tentang seorang suami yang tak mencintai istri karena sebuah perjodohan atau penyebab lainnya, jadi dia ingin tidur di kamar terpisah. Entah akan bagaimana nanti, aku tak bisa menebak. Hanya menjalani saja sesuai alurnya. Ujungnya seperti apa, aku tak memikirkan. Biarkan saja waktu yang menjawab. Aku sepasrah itu, karena membantah pun percuma. Dia tak akan mendengarkanku yang sepenuhnya salah baginya. Aku mulai membersihkan kaca jendela kamar terlebih dahulu. Aku buka jendelanya agar ada sirkulasi udara. Setelahnya, aku menyapu. Tak begitu tebal juga debunya, mungkin belum lama rumah ini dibersihkan. Aku tahu, Rakha sengaja tak memakai jasa asisten rumah tangga lagi dengan menyuruhku mengerjakan segalanya sebagai bentuk hukuman padaku. Yang aku sendiri tak tahu, akan sampai kapan berlakunya hukuman ini. Atau, akan selamanya? Mengingat, aku yang dianggap telah membuat calon istrinya meninggal. Satu yang sebenarnya agak aneh bagiku. Menghukumku dengan menikahiku, agar bisa menyiksaku. Tapi, apa dia tak sayang-sayang menghabiskan waktu dengan orang yang sama sekali tak dicintainya? Yang telah membuat calon istrinya meninggal dunia? Apa dia tahan terus berada satu rumah dengan seseorang yang dia sebut sebagai pembunuh ini? Dia sangat tampan. Aku mengakui fisiknya sebagai lelaki dewasa berusia 29 tahun, begitu mempesona. Dia seharusnya bisa menikahi siapa pun yang dia mau sebagai pengganti, semisal memang tetap ingin menikah sesuatu jadwal. Dan menyiksaku dengan cara lain, tanpa harus menikahiku. Sungguh tak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Inka—sepupu lelaki itu bercerita sekilas tentang Rakha. Dia bilang, banyak yang menyukai lelaki itu. Wajar memang. Siapa yang tak suka dengan lelaki tampan dan kaya raya, serta lulusan luar negeri? Aku saja sepertinya yang tak tertarik padanya. Karena sejak dulu, aku memang susah jatuh cinta, mau setampan dan sekaya apa pun lelaki yang mendekatiku. Kak Elang saja, cukup lama mendekatiku karena aku memang tak berniat membuka hati. Sejak sekolah, banyak sekali yang mendekatiku. Banyak yang menyatakan cinta padaku. Dari mulai yang seumuran, kakak kelas, hingga adik kelas pun saat aku naik kelas. Semuanya aku tolak. Aku merasa seolah tak pantas dengan siapa pun. Dibalik keceriaan yang selalu aku tunjukkan, aku insecure parah. Aku yang tahu bahwa merupakan anak pungut dari panti asuhan, kepercayaan diriku makin lama makin terkikis. Belum lagi perlakuan orang tuaku di rumah yang tak lagi sama sejak kelahiran adikku—anak kandung dari kedua orang tuaku. Aku mencari perhatian di luar rumah karena tak mendapatkan itu dari orang tuaku, ternyata tetap saja tak mampu mengobati kesepianku. Aku merasa rendah, tak pantas dicintai oleh siapa pun. Aku hanya anak pungut, tidak seperti teman-temanku. Tanpa memandang fisik atau pun materi, semuanya aku tolak. Aku malu, jika mereka sampai tahu siapa diriku sebenarnya. Tak ada satu pun yang tahu statusku sebagai anak pungut, termasuk teman-teman dekatku kala itu. Teman-teman dekat, yang perlahan mulai menjauh saat sudah kuliah. Keluargaku jatuh miskin dengan papa yang mulai sakit-sakitan dan terpaksa berhenti bekerja, satu-persatu temanku menjauh dan menolak bertemu denganku. Ternyata, tak satu pun dari mereka yang tulus. Hanya berteman denganku karena mungkin menurut mereka, aku adalah anak orang kaya. Waktu berlalu, tak terasa aku sudah selesai membersihkan kamar utama serta kamar mandi di dalamnya juga. Membersihkan rumah bukan lah hal baru bagiku. Sejak tak lagi ada asisten rumah tangga hingga pindah ke rumah sederhana, aku lah yang membersihkan rumah dan memasak juga. Keluar kamar, aku mendapati Rakha yang tertidur bersandar. Aku pun tergerak hati memintanya pindah ke kamar saja, agar lebih nyaman tidurnya. Tapi, justru kata-kata ketus yang aku dapati. Aku menghela napas menatap punggungnya yang menjauh hingga pintu kamar tertutup. Aku serba salah di matanya. Aku menipiskan bibirku. Tak apa, resiko yang harus aku tanggung. Aku pun berbalik badan dan menuju lantai atas membawa peralatan kebersihan. Aku akan membersihkan bagian lantai atas dulu, baru nanti bagian lainnya di bawah. Merasa haus, aku turun ke bawah sejenak untuk minum. Di dapur, tak ada air di dispenser dan di kulkas pun tak ada. Apa ada dispenser di tempat lain? Aku akan bertanya pada Rakha, yang mungkin akan mengganggu istirahatnya sejenak. Tapi, aku benar-benar haus. Rupanya tak ada minuman lain. Dia mengeluarkan uang, memintaku membeli sendiri di mini market yang tak jauh dari sini katanya. Dia tak berniat membelikan untukku yang sekalian untuknya juga, di saat aku harus lanjut membersihkan rumah? Kuat-kuat ya, Yu! Aku menyemangati diriku sendiri. “Buruan sana beli! Saya juga haus.” “Ya. Baik.” Saat aku sudah akan mencapai pintu, suara Rakha kembali terdengar. “Pergi sama saya! Sekalian ada makanan yang ingin saya beli di luar sana.” Aku legah, setidaknya tak mengeluarkan banyak tenaga dengan jalan kaki bolak-balik ke supermarket dan lanjut lagi mengerjakan tugas rumah. Ketika aku akan membuka pintu mobil bagian belakang… “Duduk di depan aja! Orang-orang sini nanti kalau tahu, akan anggap kamu itu pembantunya saya.” “Memangnya terlihat seperti itu, ‘kan?” tanyaku sambil tersenyum tipis. “Saya akan bertugas membersihkan rumah sebesar ini dan memasak juga, layaknya seorang pembantu. Padahal, kamu cukup punya banyak uang buat membayar jasa seorang pembantu.” “Lancang kamu jawab begitu? Berani kamu sama saya? Nggak sadar dengan kesalahan kamu? Yang membuat saya begitu murka?” “Sadar, kok. Maaf.” Aku pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Dan lelaki itu juga langsung memutari mobil dan duduk di bagian kemudi. Saat mobil mulai melaju, aku bersuara kembali. “Seharusnya kamu nggak menikahi seseorang yang kamu benci, Mas. Apa kamu yakin akan tenang hidup satu atap dengan orang yang kamu bilang ‘pembunuh’ ini?” “Kamu nggak berhak komentarin apa pun!” “Saya hanya mencoba mengingatkan aja. Takutnya nanti kamu marah-marah terus setiap harinya dan bisa jadi penyakit. Darah tinggi.” “Nggak usah sok ceramahin saya! Apa kamu pikir dengan bilang begitu, saya aka berubah pikiran dan ngelepasin kamu begitu aja?” “Nggak sih, Mas. Maksud saya, kenapa kamu nggak nyiksa saya aja dengan cara lain tanpa harus terikat dalam sebuah pernikahan tanpa cinta? Apa kamu nggak sayang dengan diri kamu sendiri? Seharusnya kamu bisa memilih perempuan mana pun yang kamu inginkan, hidup tenang dan bahagia dalam sebuah pernikahan. Dari pada hidup bersama saya yang kamu sangat benci.” “Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Mencoba mempengaruhi pikiran saya? Percuma, enggak akan berhasil.” “Enggak sama sekali. Saya justru menyayangkan aja. Kamu memiliki fisik yang sempurna, ganteng dan kaya raya yang pastinya perempuan mana pun akan mau bersama kamu. Kamu bisa hidup dengan orang yang kamu pilih, bisa kamu cintai dengan tulus tanpa ada amarah di dalamnya. Dan kamu bisa pikirkan cara lain untuk menyiksa saya.” “Kam— “ “Tenang aja, saya enggak akan ke mana-mana. Rumah orang tua saya tetap di sana, nggak ada rumah lainnya. Saya juga nggak punya kerabat atau teman yang akan dituju jika kabur. Saya nggak punya uang banyak juga untuk memulai hidup baru di tempat baru, semisal niat pergi. Lagi, saya nggak akan bisa kabur dengan kamu yang pasti akan bisa menemukan saya di mana pun.” Lelaki itu diam, tak menyahut lagi. Aku juga lelah. Segera turun dari mobil saat sudah berhenti di sebuah mini market.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN