Bab 15 — Mengharapkan Uang Saya?

1708 Kata
Ayu's PoV Semenjak kepergian Kak Elang, aku sering mengalami mimpi buruk hingga bangun dengan tubuh berkeringat atau tetesan air mata. Dan kali ini aku sepertinya kembali bermimpi hingga terbangun dan mendapati Rakha berada di dekatku. Entah kenapa, lelaki itu tiba-tiba berubah pikiran dan memintaku untuk tidur di kasur. Tentu saja apa yang diucapkannya tak boleh dibantah. Aku pun menaiki ranjang yang sama dengannya dan memberikan jarak sesuai ucapannya. “Langsung tidur istirahat! Ingat, besok kamu sudah mulai menjalankan semua tugasmu sebagai istri. Banyak hal yang harus kamu lakukan.” “Iya.” Aku pun memejamkan mata, tak lagi mendengar suaranya lelaki itu. Aku tertidur begitu saja, dan begitu terbangun merasakan sesuatu melingkari tubuhku. Aku mengerjap-ngerjap, di kala menyadari bahwa tangan besarnya Rakha memelukku. Sejak kapan begini? Apa dia tak sadar telah memelukku? Aku memiringkan kepalaku. Wajahnya Rakha nyaris tak berjarak dengan kepalaku. Aku menatap wajahnya yang masih terpejam itu sejenak. Dia begitu tampan, dalam tidur pun. Hidungnya mancung dengan rahang yang tegas dan kulitnya juga cerah. Ketika matanya terbuka, matanya tampak begitu tajam. Kenapa sih, dia harus memilih menikah dengan seseorang yang dia benci? Padahal, dia bisa mendapatkan perempuan mana pun dengan mudahnya dalam waktu singkat pun. Siapa yang tak mau dengan lelaki dewasa yang tampan, mapan—merupakan CEO di sebuah perusahaan? Aku rasa yang berusia jauh di bawahnya, seumuran atau di atasnya pun, akan mau tanpa berpikir panjang. Bahkan jika dia menginginkan seorang model pun, aku rasa tak akan ditolak dengan segala pesonanya yang dimilikinya. Kenapa harus bersama aku? Aku menghela napas pelan. Meski mengakui paras tampannya, tak pantas membuatku tertarik begitu saja. Sejak dulu, entah sudah berapa orang yang mendekatiku sebelum dan sesudah Kak Elang, banyak sekali yang menonjol dari segi fisik. Namun, aku bukan tipe perempuan yang mudah jatuh cinta hanya karena parasnya saja. Justru Kak Elang yang kata adikku biasa-biasa aja tampangnya, tapi bisa membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Sifatnya dan bagaimana perlakuannya padaku, itu yang membuatku menerimanya di sisiku. Mungkin banyak yang lain yang lebih segalanya dari Kak Elang, tapi belum tentu ada yang seperti Kak Elang. Dia spesial, posisinya dihatiku akan abadi. Perlahan, aku menyingkirkan tangan besarnya Rakha dari yang melingkar di atas perutku. Lelaki itu melenguh, namun susah tangannya disingkirkan. Terangkat, dan kembali berada di atas perutku. Aku menarik napas, dan membuangnya perlahan. “Mas?” Tak ada sahutan dari lelaki itu. Dua kali aku panggil namanya, tetap saja hanya terdengar lenguhan kecil saja. Aku kembali mencoba menyingkirkan tangan yang berurat itu, hingga akhirnya terlepas juga. Aku buru-buru bangkit dari tempat tidur setelah meletakkan bantal di sisi Rakha. Dia tetap setia memejamkan mata. Apa dia terlalu mengantuk karena tidur larut? Aku tak tahu jam berapa dia tidur semalam. Aku mengedikkan bahuku. Aku menuju kamar mandi, aku harus bersiap-siap mulai hari ini melakukan tugasku sebagai istri. Tak ada cinta, bukan berarti aku melupakan tugasku sebagai seorang istri. Selesai dengan urusanku sendiri, aku menyatukan pakaian milikku dan juga Rakha. Gaun dan celana serta jas yang dipakai lelaki itu. Nanti mungkin akan aku laundry. Aku telah melihat-lihat sekitar saat berkunjung ke sana membersihkan rumah. Ada laundry di ruko sebelah indoapril. Cukup lengkap di ruko sana, ada yang jualan sayur mentah juga. Aku pernah masuk sekali. Nanti bisa belanja di sana jika tak banyak yang dibutuhkan, tanpa harus ke pasar modern atau ke supermarket besar. Tak terasa, sudah pukul 8. Saat aku keluar dari kamar mandi dan berniat membangunkan Rakha, ternyata dia sudah bangun. Aku bertanya mengenai sarapan dan dia menjawab jika ingin sarapan di resto saja. Aku menunggunya mandi terlebih dahulu, sama-sama nanti ke restonya. Sambil menunggu, aku duduk di pinggir kasur setelah meraih ponselku. Aku mendapati ada pesan dari mamanya Kak Elang. Dua hari lalu, aku menangis-nangis padanya menceritakan segalanya. Beliau tak marah, hanya saja, dia menyarankan hal yang sama seperti Rakha. “Jual saja mobilnya, takut nanti ada musibah lagi. Enggak apa-apa, Mama enggak masalah jika mobilnya dijual.” “Enggak, Ma. Aku ingin mengenang apa yang Kak Elang tinggalkan. Kak Elang akan selalu di hatiku. Ada tempat spesial untuknya di dalam sini.” Aku menekan-nekan dadaku menahan sesak. “Aku nggak akan melupakan Kak Elang begitu aja.” “Iya, Sayang, Mama tahu itu. Tapi, Mama khawatir nanti kamu kenapa-napa lagi.” “Aku akan lebih berhati-hati lagi, Ma.” Terdengar helaan napasnya dari seberang sana. “Sekali lagi, aku minta maaf. Bukannya aku nggak setia sama Kak Elang, tapi aku harus melakukan ini. Dan aku harus taat sama suamiku nanti.” “Kamu nggak harus meminta maaf, Elang juga pasti ngerti di sana. Kamu harus janji ya, harus hidup bahagia. Dan semoga bisa mencintai suamimu nanti seiring berjalannya waktu.” Aku menggeleng lemah. Aku hanya melanjutkan sisa hidupku, pasrah dengan takdir. Mamanya Kak Elang mengucapkan selamat atas pernikahanku. Beliau menuliskan kata panjang lebar—mendo’akanku. Aku menyeka air mata yang meleleh begitu saja membasahi pipiku. Andai Kak Elang masih hidup, aku akan bahagia sekali pastinya. Terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka. Aku menggembungkan pipiku, lalu berbalik badan menghadap ke arahnya Rakha. Mataku melotot mendapati lelaki itu shirtless dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Aku segera mengalihkan pandangan dari badannya yang kekar dan berotot tersebut. Inka bilang, Rakha itu rajin olahraga dan makanannya terjaga, jadi bentuk badannya bagus. Suatu hari Inka tiba-tiba bercerita hal random tentang sepupunya itu. “Saya lupa nggak bawa baju ganti.” Aku berdehem. Setelahnya, kami berdua pun turun menuju restoran. Sepanjang jalan hanya, hingga tiba di restoran yang mana orang tuanya Rakha sudah berada di sana lebih dulu. Aku tersenyum pada kedua orang tua baruku itu. Meski perlakuannya Rakha pada tak semena-mena, setidaknya ada orang tuanya yang bersikap hangat padaku. Aku bisa merasakan ketulusan itu sejak pertama kali kenal. Aku mengambil sarapan untuk Rakha, memilih menu yang sekiranya sehat untuk pagi hari. Tak tahu kesukaannya apa, tapi dia tak menolak saat aku ambilkan roti yang aku panggang sendiri dan diberi selai. Lalu, mengambil omelette dan salad sayur. “Makan yang banyak ya, Ayu,” ujar mama mertuaku setelah aku selesai mengambil makanan untuk diriku sendiri. “Iya, Ma.” “Nanti kamu harus sering ke rumah Mama berkunjung. Kita bisa masak dan makan bersama. Kalau Rakha sibuk, nggak apa-apa kamu sendiri aja.” “Iya, Ma.” Aku menoleh sekilas pada Rakha, lelaki itu tampak acuh saja. “Kamu yakin bakalan tetap kerja?” Aku mengangguk. “Aku udah terbiasa bekerja, Ma. Dan Mas Rakha juga enggak mempermasalahkan itu.” Mama mertuaku manggut-manggut. “Tapi, nanti boleh dipertimbangkan lagi kalau udah punya anak.” Aku tersenyum. Mungkin aku memang akan mempertimbangkan jika telah memiliki anak, jadi ada teman di rumah yang menemaniku. Menoleh lagi ke arah Rakha, lelaki itu sibuk dengan makanannya. Tak menyahuti ucapan mamanya. *** Sebelum pulang, kami mampir di sebuah restoran dulu untuk makan siang sekalian dengan orang tuanya Rakha. Sebelum berpisah menaiki mobil masing-masing setelah makan, mama mertuaku memelukku. “Kalau Rakha jahat sama kamu, bilang sama Mama.” Aku tersenyum, mengangguk saja. Masa iya aku mengadu? Yang ada, Rakha akan semakin benci padaku. “Ya udah, Mama pulang, ya!” “Iya. Hati-hati, Ma.” Setelah mobil mertuaku pergi, baru lah aku dan Rakha memasuki mobil. “Bilang apa barusan mama saya sama kamu?” tanya lelaki itu saat aku baru saja memasang sabuk pengaman. “Bukan sesuatu yang penting.” “Nggak usah sok baik menarik perhatian orang tua saya.” Aku mengernyit. Sok baik? Aku hanya apa adanya saja berinteraksi dengan orang tuanya. Tak bermaksud mencari perhatian. Aku diam saja, tak membalas ucapannya. Menunduk, aku mendapati layar ponselku menyala. Ada pesan beruntun dari mamaku. Mama bilang butuh uang untuk pengobatan papa lusa. Aku memejamkan mata. Dari mana aku mendapatkan jumlah uang yang besar? Mama mendadak sekali, baru kemarin ini aku mengeluarkan uang untuk biaya study tour adikku ke Bali, tak sedikit jumlahnya bagiku. Aku mana punya tabungan banyak? Sedikit demi sedikit aku kumpulkan, seringnya tidak bisa ditabung gaji yang aku dapatkan karena membantu kebutuhan keluarga dan pengobatan papa. Belum lagi kemarin ini service mobil yang tak ada asuransi lagi. Belum aku balas, aku membuka kata dan mendapatkan lagi pesan dari mama. Mama Kok dibaca aja? Kamu sombong skrg mentang2 punya suami kaya? Gamau bantu kami yg udah rawat kamu sejak bayi? Sekolahin kamu sampe sarjana? Kalau kamu ga punya, minta aja sama suamimu itu. Walau dia keliatan ga sayang kamu, tapi kan dia banyak uang. Cari cara supaya dia mau bantu pengobatan papamu. 10 jua doang, kecil itu bagiku. Aku mengetikkan balasan pesan kepada mama. Kemudian, memijit-mijit kepalaku. Langsung meminta uang kepada Rakha pada hari kedua menjadi istrinya, apa bagaimana respon lelaki itu nanti? Dia katanya memang akan memberikan nafkah, tapi tak tahu berapa nominalnya dan kapan akan diberikan. Masa aku meminta? Bagaimana jika meminjam kepadanya? Duh, aku pusing sekali. Untuk cuci darah, ditanggung asuransi. Tapi biasanya untuk obat-obat tertentu, ada yang tak ditanggung. Papa sakitnya sudah komplikasi sebenarnya. Sudah beberapa kali dirawat. Aku menoleh kepada Rakha yang menatap lurus jalanan di depan sana. “Mas, besok pas kamu kerja, saya belanja bulanan, ya!” “Hmmm.” “Saya akan diberikan uang untuk belanja bulanan—untuk kebutuhan, ‘kan?” Lelaki itu menoleh sekilas. “Ya.” “Bisa kasihnya hari ini aja, Mas? Takutnya besok lupa.” Lelaki itu kembali menoleh sekilas. “Nanti di rumah.” “Oke… “ Saat tiba di rumah, mama kembali menghubungiku. Mama telepon aku saat aku sedang duduk di dapur, minum air putih. Rakha sendiri, langsung masuk ke kamar barusan. “Sabar ya, Ma. Aku belum dikasih uang sama suamiku. Aku sendiri nggak ada pegangan, cuma sejuta aja adanya. Nanti kalau udah dikasih, aku pasti akan transfer.” “Minta aja buat belanja bulanan, dia pasti akan kasih itu.” “Iya, tadi aku udah bilang. Nanti coba aku tanya lagi.” Ketika aku mengangkat wajahku, aku mendapati sosok Rakha berdiri tak jauh dariku. Mataku membola seketika. Apa dia barusan mendengar apa yang aku sampaikan kepada mama? “Ma, udah dulu, ya! Nanti aku hubungi lagi.” “Telepon sama Mama kamu barusan?” “Iya, Mas.” Lelaki itu melangkah mendekat padaku. "Selain merasa bersalah, ini salah satunya alasan kamu mau menikah dengan saya? Ck... akting aja waktu itu pura-pura menolak ketika saya meminta kamu bertanggung jawab menikah dengan saya sebagai pengantin pengganti. Ternyata, kamu mengharapkan uang saya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN