“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya gadis muda itu tersenyum ramah. Daren menoleh pada gadis pelayan toko itu. “Saya butuh pembalut,” katanya dengan canggung. Gadis itu pun tersenyum, antara merasa geli dan kagum pada laki-laki yang rupanya mengerti dengan kebutuhan perempuan. “Coba ditanya dulu, Mbaknya biasa pakai pembalut yang seperti apa?” katanya. Darren kembali kebingungan dibuatnya. “Memangnya ada berapa macam?” ujarnya bertanya balik. Gadis itu merapatkan bibirnya menahan tawa, namun tidak ingin menyinggung perasaan Darren. “Seperti yang Pak–eh … maksud saya, Mas lihat di sini ada berbagai macam pembalut–” terang sedikit kaku. “Nona sendiri biasa pakai yang bagaimana?” ujar Darren dengan nada polos. Gadis itu mengerjap, terkejut karenanya. Wajahnya tampak memerah seketik

