“Amber?” Amber mengerjap, dia terkejut sendiri menyadari dirinya yang saat ini memeluk Darren. Saking kagetnya dengan suara petir tadi. Ditambah suasana cafe yang lampunya tiba-tiba, ditambah dengan cuaca mendung di luar sana, membuat keadaan menjadi gelap seperti petang hari. “M-maaf, Pak!” tukasnya seraya cepat melepaskan Darren. Darren mengangguk saja mengiyakan. Suasana pun menjadi canggung karenanya. “Eh, Bapak ganti baju saja dulu, biar bajunya saya kucek dulu sebentar!” kata Amber tana berani menatap pada Darren. “Baik, tapi biar bajunya aku cuci sendiri saja!” kata Darren merasa tidak enak. Amber menggeleng. “Nggak apa-apa, di belakang ada mesin cuci karyawan, aku pakai itu, kok! kata Amber lagi, sedikit memaksa karena dia juga merasa tidak enak atas kecerobohannya tadi. “B

