Sisy terperanjat, jantungnya berdegup tak menentu saat melihat Kania dan Edward datang dan kini sudah duduk tenang di hadapannya. Pasangan itu sepertinya membawa pesan penting—itu sebabnya sipir mengizinkan mereka berbicara tanpa jeda, tanpa rutinitas besuk seperti biasa. "Nak, apa benar kamu, Kania?" Suara Santi bergetar saat matanya menatap perempuan itu untuk pertama kalinya secara langsung, meski pernah berulang kali melihatnya lewat layar ponsel. "Iya, Bu. Aku Kania,” jawab Kania lirih, mengenang masa-masa mereka sering video call. "Aku juga mengingat ibu." Santi menghela napas berat, suaranya pecah, "Syukurlah kamu masih mengingat Ibu. Maafkan semua kesalahan Sisy, Nak." Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi Kania cepat memotong, "Aku sudah memaafkannya, Bu. Dan Sisy juga sudah menjal

