Kirana menghela napas panjang ketika tubuhnya akhirnya tenggelam ke dalam sofa ruang tengah villa. Ruangan itu hangat karena perapian kecil yang masih menyala sejak sore tadi, tetapi kepalanya justru terasa berat. Sakitnya berdenyut perlahban dari pelipis hingga ke belakang kepala, membuatnya menutup mata beberapa detik. Udara pegunungan yang seharusnya menyegarkan justru membuat tubuhnya terasa semakin lelah. Hari itu terlalu panjang. Terlalu banyak percakapan yang menekan. Terlalu banyak tatapan yang harus ia hindari. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang sofa, memijat pelipisnya pelan dengan ujung jari. Nafasnya keluar berat. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia mulai merasa seperti ini, tetapi satu hal yang jelas—pikirannya tidak pernah benar-benar tenang sejak mereka tiba di villa ini

