Sus Sani berdebar, padahal bukan dirinya yang ada di posisi tokoh utama wanita dalam ruangan ini. Dia serasa nonton siaran live dari drama lintas negara yang disutradarai langsung oleh Yang Mahakuasa. Oh, oh, ya ampun! Tinggal sedikit lagi kepala Pak Jagat maju, bibir mereka bisa bertempelan. Namun, yang terjadi justru telapak tangan Bu Seruni mencipok brutal pipi Pak Jagat sampai kepala beliau menoleh ke sisi. Suaranya pun empuk sekali didengar. Ya, itulah yang terjadi. Jagat sontak tersentak bangun dari atas tubuh Seruni yang empuk itu—dadanya. Yang aromanya wangi minyak telon bayi, tetapi mengundang syahwat Jagat sebagai lelaki—ingin cium-cium. Hampir. Kepala Jagat sudah akan bergerak maju tadi, setidaknya menempelkan pucuk bibir. Namun, Seruni tersadar lebih dulu dengan posisinya

