Mereka kembali ke ranjang setelah menyelesaikan makannya yang terlambat, bukan untuk tidur, tetapi untuk bermalas-malasan, mengobrol dengan santai, dan tertawa tentang cerita sepele seputar pengalaman Zorion selama menjadi pe-sepak bola profesional. Gairah mereka mungkin telah mereda untuk sementara, tetapi keintiman itu tetap ada, masih kuat dan hangat. Hari itu berlanjut dengan lambat, diselingi oleh ciuman lembut, pelukan hangat, dan kedekatan yang semakin erat. Dan ketika malam mulai turun lagi, membawa kegelapan, mereka saling memandang, dan senyum menggoda muncul di bibir mereka. “Lagi?” bisik Zorion di telinga wanita itu ketika Airine memandang salju yang turun deras di luar jendela. Airine tertawa pelan dan kemudian menoleh. Tangannya melingkar di leher kokoh Zorion. “Oke

