Alin memandangi Yoanna, ibunya, yang tengah merapikan tas kecilnya sebelum berangkat. Udara sore terasa sejuk, tetapi hati Alin tetap terasa berat. Ia tahu kepergian ibunya adalah hal yang tak terelakkan, namun kehadiran Yoanna selama telah memberikan kenyamanan yang sulit digantikan. “Alin,” ucap Yoanna lembut sambil menggenggam tangan putrinya. “Kamu yakin tidak mau ikut Mama pulang? Kalau kamu tinggal dengan Mama, kamu tidak perlu menghadapi semua ini sendirian. Mama akan senang hati merawatmu, merawat cucu Mama. Di rumah, kamu akan lebih tenang.” Alin tersenyum kecil, meskipun matanya mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Ma. Tapi aku sudah memutuskan untuk tetap di sini. Aku harus menyelesaikan semuanya, termasuk urusan perceraian ini. Lebih cepat lebih baik.” Yoanna menarik napas pa

