Tak mau membuat Alin terlalu lama bersedih, Arman permisi pergi sebentar. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke kamar Alin dengan sebuah kantong besar di tangannya. Wajahnya terlihat sedikit lebih ceria dibanding sebelumnya, berusaha membawa suasana yang lebih ringan ke dalam ruangan. Alin, yang masih berbaring di tempat tidur, mengalihkan pandangannya dari jendela dan tersenyum lemah ketika melihat Arman. “Aku kembali,” ucap Arman sambil mengangkat kantong belanjaannya. “Dan aku membawa sesuatu yang spesial untukmu.” Alin tersenyum kecil. “Apa itu, Arman?” Arman mendekati meja kecil di samping tempat tidur dan mulai mengeluarkan isi kantong belanjaannya. “Dokter bilang kamu harus banyak makan buah, kan? Jadi, aku beli cake buah yang segar ini.” Ia meletakkan sebuah kotak berisi cake b

