Esok pagi sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar rumah sakit. Suasana terasa tenang, hanya terdengar suara pelan dari monitor medis di sisi tempat tidur Alin. Arman duduk di kursi di sebelahnya, memegang tangan Alin dengan lembut. Meski semalam mereka berdua tidak banyak bicara, kebersamaan mereka memberikan ketenangan tersendiri bagi Alin yang tengah memulihkan diri. Pintu kamar terbuka perlahan, dan seorang dokter dengan jas putih masuk bersama seorang perawat yang membawa berkas catatan medis. Senyum ramah dokter itu langsung membuat suasana kamar terasa lebih cerah. Alin dan Arman serempak menoleh, keduanya menanti dengan penuh harap apa yang akan dikatakan oleh dokter. “Selamat pagi, Bu Alin. Selamat pagi juga, Pak Arman,” sapa dokter itu sambil

