Hari itu, seperti biasa, Arman hendak berangkat ke kantor. Dengan diiringi lambaian tangan riang dari istri dan anaknya. Alin dan Davin berdiri di teras melihat keberangkatannya. “Nanti mau dibawakan apa? Tentunya bukan kue, kamu ahli untuk satu hal itu!” ujar Arman tersenyum. Alin trekekeh. “Setelah seharian bergelut dengan mentega dan gula manis, aku ingin sesuatu yang berkuah dan pedas,” katanya. Arman mengiyakan. “Biar aku tebak nanti, jangan dijelaskan sekarang!” ujarnya. Alin tertawa. “Kalau bener, kalau salah, gimana?” kekehnya. “Kalau benar, aku minta kamu buat ….” Arman mendekat membisikkan sesuatu di telinga Alin, istrinya itu langsung tersipu dengan pipi bersemu merah. “Jangan harap!” gelaknya. Arman mengerling. “Kamu tidak akan bisa menolak!” katanya sambil mencium pipi

