Maya menangis, dia mencium tangan Nenek berulang kali. “Kasih tau sama mereka kalau Maya udah bahagia ya, Nek. Gak perlu minta maaf. Maya baik baik aja sekarang, punya anak anak yang sehat dan keluarga yang bahagia.” Nenek mengangguk, kemudian menatap langit langit. “Nenek mau tidur.” “Nenek gak mau ketemu sama anak anaknya Maya? Ada Adrian loh?” “Ian ya?” nenek tersenyum. “Nanti aja kalau Nenek bangun tidur ya. kepala Nenek sakit.” Tangan Maya terulur untuk mengelus rambut Nenek yang mulai memejamkan matanya perlahan. Melihat sosok ini masih bernafas adalah sebuah kebahagiaan untuk Maya. Allen yang juga ingin bertemu dengan Nenek itu masuk ke dalam ruangan dengan perlahan. Dia berdiri di belakang sang istri dan mengusap punggungnya. “Tadinya mau ngajak Nenek bercanda.” “Nenek ngantuk

