Asisten itu akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Dok. Hati-hati di jalan." Haris hanya mengangguk singkat, lalu berbalik tanpa berkata apa pun lagi. Langkahnya tenang menyusuri area parkir gedung yang mulai sepi. Lampu-lampu putih di langit-langit terasa terlalu terang malam itu. Suara sepatu kulitnya bergema pelan, berulang, seperti detak jam yang menghitung sesuatu yang tak bisa dihentikan. Di tangannya, ponsel masih tergenggam. Layar sudah mati. Namun bayangan foto itu seolah tertinggal di retina matanya. Pintu parkiran basement terbuka otomatis ketika dia mendekat. Udara malam Jakarta menyambutnya dengan hangat dan lembap. Biasanya, suasana kota selalu membuatnya merasa ingin cepat pulang karena ada hangat disana. Tetapi malam ini... rasanya asing. Haris masuk ke mobilnya, menutup pin

