Rasa bersalah

1462 Kata

Haris menutup telepon itu dengan rahang mengeras. Pesan barusan seperti menyiramkan bensin ke bara yang belum padam di dalam dadanya. "Lihatlah anak ini, dia sudah nyaman bersama ayahnya. Apakah kau masih bersikeras untuk mengakui bahwa dia puteramu?" Sebuah foto terlampir. Leonel. Duduk di pangkuan Alvin. Tertawa. Terlihat begitu nyaman. Nafas Haris tercekat. Bukan karena ia meragukan Leonel. Bukan karena ia tidak percaya pada Syafira. Tetapi karena waktu yang dipilih untuk mengirim pesan itu, pagi setelah dia sendiri tergelincir dalam kelemahan, terasa seperti pukulan telak dari semesta. Seolah-olah dunia sedang mengujinya sekaligus. Dia berdiri lama di tengah kamar hotel, koper setengah terbuka, pakaian masih berserakan. Pikirannya terbelah dua. Satu sisi ingin segera mencari Jovan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN