Hotel

2498 Kata

Deg. Satu kata itu saja sudah cukup membuat dadaku terasa sesak. Aku memandangi layar ponsel yang kini meredup, seolah kalimat mas Alvin ikut menghilang ke dalam gelap, tapi gaungnya masih tertinggal di kepalaku. Seolah otakku tiba-tiba berhenti berfungsi, bagaimana tidak? Mas Alvin mau bangun satu buah asrama tambahan untuk aku biar dekat dengannya. Banyak yang harus aku pikirkan jika antara kami makin intens dan tak ada batas. Aku menghela nafas panjang dan kembali mengingat tulisan kalimat dari sosok pria yang jujur sudah mengubah dunia dan caraku berfikir. “Bangun satu asrama... kamu pindah ke sana... kita bisa lebih dekat.” Aku memiringkan tubuh, memeluk bantal, mencoba menenangkan napas yang tiba-tiba terasa pendek. Ini bukan sekedar ajakan biasa. Bukan pula gombalan tengah malam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN