Sky tidak pedulikan semua tatapan mata padanya, karyawan yang bekerja di gedung Lais belum terbiasa dengan kehadirannya. Atau bahkan pasti menjadikannya bahan pembicaraan. Awal kehadirannya saja sudah menolak acara untuk memberi sambutan pada para karyawannya. Lalu setiap kali disapa, malah menampilkan ekspresi dingin serta tatapan yang perlu dihindari. Sky memasukkan kedua tangan ke saku celana, kemudian ia menoleh saat mendapati Budi datang dengan kerepotan. Memegangi tasnya, juga cup kopi untuknya. “Lumayan, hari ini kamu sedikit tepat waktu.” “Hanya sedikit, Pak? Padahal effort saya sudah luar biasa. Sudah akrab dengan pekerja kedai kopinya untuk siapkan kopi kesukaan Pak Sky,” katanya menunjukkan usahanya, berharap dapat pujian. “Suasana hati saya lagi tidak baik, jangan membu

