Elang Pratama (1)

1381 Kata

Salsa masuk ke ruangan kakeknya dengan napas yang masih tersengal. Dia berdiri sejenak di ambang pintu, memastikan Kakek Sanusi sudah terlelap. Benar saja, kakeknya sedang tidur tenang dengan napas yang teratur. Salsa menghapus kasar sisa air mata di pipinya. Dia menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang kakeknya. Keheningan ruangan itu justru membuat kepalanya makin bising. "Dasar pengacara gila," bisik Salsa lirih, menatap jari-jarinya yang masih gemetar. Padahal tadi dia nyaris saja keceplosan. Nyaris saja dia mengaku bahwa dia mulai ragu bisa menjaga isi kontrak itu. Terutama pada satu persyaratan yang menurutnya paling mustahil dilakukan manusia normal yaitu dilarang jatuh cinta. Salsa memejamkan mata, memijat pelipisnya yang berdenyut. Dia mulai menghitung-hitung d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN