Telepon genggamnya di tangan kiri sudah berdering entah berapa kali. Wajah cantik istrinya masih terpampang di layar, tidak juga menjawab. Rania… wanita itu pasti tertidur pulas di apartemen dengan tubuh membuncit dan nafas yang mulai berat kalau duduk terlalu lama. Dan Prabu? Ia hanya bisa menatap layar dengan tatapan kosong… dan sesuatu yang mengeras di balik handuk hotel yang baru saja ia kenakan selepas mandi. Sesuatu yang seharusnya ia titipkan dengan penuh cinta pada istrinya… tapi kini hanya bisa menegang tanpa arah dan makna. “Ya Tuhan…” gumamnya lirih, sambil menengadah dan menghela napas pasrah. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba meredam kegelisahan. Tapi Rania belum juga menjawab, dan kejengkelan biologis ini tak bisa ditenangkan hanya dengan segelas teh hangat. "Rania, kamu b

