Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah satu lantai yang luas, elegan dengan sentuhan arsitektur tropikal-modern. Pilar kayu jati tegak menyangga atap lebar yang menjulur, halaman depannya hijau dengan rumput Jepang yang rapi, ditata berpadu dengan pohon kamboja dan pot-pot terakota berisi lavender dan rosemary. Lampu taman kekuningan menyala lembut, menyambut malam yang mulai turun. “Ini rumah siapa?” tanya Rania pelan. Prabu tidak langsung menjawab. Ia tersenyum dan membuka pintu mobil, turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. “Turun dulu, Bu Rektor. Nanti Mas jawab.” Daisy sudah lebih dulu digendong oleh sang ayah, tangannya memeluk leher Prabu sambil masih celingukan. Tangan Prabu satunya menggenggam erat tangan Rania yang masih belum sepenuhnya paham situasi. Prabu membuka pintu

